MAKALAH
PEREKONOMIAN DI PELABUHAN PANARUKAN
SITUBONDO
Di
Susun Oleh :
Ahmad
Zainullah 201110342
Cholik
Hasan S 201110217
Ittakillah
H.K 201110228
Masduki 201110219
Nurul
Hidayah 201110229
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS ABDURACMAN SALEH
SITUBONDO
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Panarukan
merupakan pelabuhan yang strategis karena terletak di sebelah Pantai Utara Jawa
Timur dan sebagai salah satu bandar kuna telah mempermainkan peranannya sejak
berabad-abad yang lampau. Pada masa Kerajaan Majapahit Panarukan sangat
terkenal sebagai kota pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Selain diketahui
bahwa Hayam Wuruk pernah mengunjungi Panarukan pada tahun 1359 Masehi.
Panarukan mempunyai kedudukan lebih penting karena terletak pada tepi jalan
perdagangan yang lebih ramai. Ini mungkin menjadi alasan mengapa raja dan
petinggi-petinggi Kerajaan Majapahit sering singgah di Panarukan.
Panarukan saat ini merupakan salah satu kecamatan di
Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Secara geografis Kabupaten Situbondo
terletak di Pantai utara Jawa Timur bagian timur dengan posisi diantara 7? 35'
- 7? 44'LS dan 113? 30' - 114? 42'BT.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
yang terjadi pada perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat
penjajahan belanda ?
2. Mengapa
perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat
Indonesia-Belanda ?
3. Bagaimana
perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini ?
1.3 Manfaat
1. Mengetahui
perekonomian mayarakat di pelabuhan panarukan pada saat penjajahan belanda.
2. Mengetahui
perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat
Indonesia-Belanda.
3. Mengetahui
perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini.
1.4 Tujuan
1. Untuk
mengetahui perekonomian mayarakat di pelabuhan panarukan pada saat penjajahan
belanda.
2. Untuk
mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat
Indonesia-Belanda.
3. Untuk
mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Pelabuhan Panarukan Situbondo
Panarukan
dahulu merupakan bagian dari Keresidenan Besuki. Pada mulanya nama Kabupaten
Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan ibukota Situbondo. Pada
masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (? Tahun 1808-1811 M)
membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang
dikenal dengan sebutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal
lagi dengan "Jalan Daendels" atau juga "Jalan Pos".
Panarukan
berkembang dengan pesat karena surplus wilayah belakang yang merupakan penghasil
ekspor, seperti tembakau, kopi dan tebu. Dengan berkembangnya Panarukan yang
begitu pesat, sehingga pada akhirnya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten
Panarukan dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Amijoyo (1858 - 1872) sebagai
Bupati Pertama.
Pada
masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir (? Tahun 1972 M) Kabupaten Panarukan
kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo, dengan ibukota tetap di
Situbondo, berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28/1972
tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan pemerintah daerah.
Kawasan
pelabuhan Panarukan berada di Pedukuhan Pesisir Kilensari Kecamatan Panarukan.
Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi pelabuhan Panarukan kurang lebih 8 km
ke arah barat. Lokasi pelabuhan terletak di pinggir laut dan dekat dengan jalan
raya sehinggga dapat dijangkau dengan mudah.
2.2 Perkonomian Pada Jaman Belanda
Pada
masa pendudukan Kolonial Belanda, di wilayah Kabupaten Panarukan terdapat 12
buah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula (PG) De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean,
Boedoean, Soekowidi, Prajekan, Tangarang, Bedadoeng, Semboro dan Goenoeng
Sarie. Pada saat ini di wilayah Kabupaten Situbondo hanya terdapat enam pabrik
gula, yaitu PG De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean dan Wringin Anom,
yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Situbondo. Dari keenam pabrik gula
tersebut empat pabrik gula masih terlihat wujudnya dan masih berproduksi hingga
saat ini pabrik gula Assembagus, Olean, Pandjie, Wringin Anom, satu pabrik gula
masih berdiri tetapi tidak berproduksi lagi adalah PG Demaas dan satu pabrik
gula yang lain adalah PG Boedoean sudah tidak tampak lagi keberadaannya.
Keseluruhan pabrik-pabrik tersebut merupakan produsen gula terbesar di Jawa
Timur.
Belanda
menjajah daerah timur utamanya di daerah panarukan Sejak abad XVI Panarukan
sudah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka di Jawa Timur.
Fungsi pelabuhan Panarukan semakin tampak yakni pada sekitar abad XIX tatkala
daerah Jember dan Bondowoso dijadikan sebagai sentra area penanaman cash crop
production, khususnya tanaman tembakau, kopi, tebu dan produk-produk perkebunan
yang lain. Di pelabuhan Panarukan inilah tempat untuk menimbun, menyimpan dan
mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri.
Pada
masa belanda berdiri sebuah perusahaan yang bernama “ Jakarta Lloyd “ pada
tahun 1886 kondisi perekonomian masyarkat panarukan semakin maju/makmur
dikarenakan masyarakat lebih diperhatikan oleh pihak Belanda. Masyarakat
sekitar pelabuhan rata-rata bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat barang
yang lebih dikenal dengan sebutan TKBM. karena pada masa Belanda masyarakat
lebih mudah mendapatkan pekerjaan, mereka bekerja sebagai kuli bongkar muat
barang di pelabuhan panarukan,yang dibuktikan dengan adanya 15 gudang
penampungan barang di dekat pelabuhan untuk pengiriman barang-barang hasil
dariperkebunan Bondowoso,Jember,Besuki,dan daeah sekitar Situbondo seperti
gula,kopi,karet,tembakau,kayu dan kakau/coklat. Barang-barang tersebut dikirim
keluar negeri oleh Belanda malalui pelabuhan Panarukan sehingga pelabuhan
Panarukan pada jaman itu sangatlah ramai dengan aktivitas bongkar muat barang
ke kapal besar.
Pelabuhan
Panarukan letaknya sangat strategis, yaitu pertama terletak di teluk yang
merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung suatu pelayaran. Kedua
pelabuhan Panarukan terletak di jalur pelayaran dari barat menuju ke Maluku di
bagian timur dan sebaliknya dari timur ke barat. Ketiga, adanya persediaan air
bersih yang dibutuhkan kapal-kapal untuk perbekalan air minum dalam pelayaran
jarak jauh. Keempat, wilayah belakang. Panarukan penghasil gula, kopi,
tembakau, beras dan terbentang hutan jati yang kayunya berkualitas baik sebagai
komoditi perdagangan dan bahan pembutan kapal.
Pelabuhan
Panarukan erat hubungannya dengan aktivitas serta perkembangan PT. Djakarta
Lloyd sub. Cab Panarukan (dahulu Panaroekan Maatscappij) yang
didirikan pada tahun 1886. Maka sejak tahun pendirian tersebut pelabuhan
Panarukan sudah dikenal pasaran dunia atau Eropa melalui ekspor komoditi gula,
kopi, tembakau, karet dan jagung.
Untuk
menunjang berlangsungnya kegiatan perdagangan maka di pelabuhan dilengkapi
dengan berbagai sarana pendukung. Pemerintah kolonial mempersiapkan sarana dan
prasarana pelabuhan antara lain dibangunnya dermaga, alat Derek (alat
pengangkut), lori, gudang-gudang pemerintah dan milik swasta, serta
gudang-gudang garam. Pemerintah juga menyediakan berbagai kebutuhan kapal,
akomodasi, air bersih, tempat penumpukan untuk barang-barang impor-ekspor,
parkiran, menyambung rel kereta api, dan menyediakan gerbong-gerbong,
menyambung pipa air, bahan bakar, kabel-kebel listrik, menyediakan
tongkang-tongkang, galangan kapal, tempat timbangan umum, penginapan, rumah
sakit, dan lain-lain. Untuk mendukung kelancaran administrasi pelabuhan,
pemerintah membangun kantor bernama Djakarta Lyiod. Dari persiapan tersebut
tampak bahwa Panarukan berfungsi sebagai pelabuhan tempat menyalurkan
barang-barang ke berbagai.
Di
pelabuhan Panarukan terdapat lori yang menghubungkan stasiun kereta api sampai
dermaga, kira-kira sepanjang 1 Km. Untuk angkutan tembakau dan kopi dari Jember
dan Bondowoso lebih murah dan cepat dengan jasa kereta api sampai Panarukan.
Sejak
awal abad XIX pihak pemerintah kolonial menerapkan kebijakan ekonomi the system
of onterprice (sistem pembangunan perusahaan atau Industri) sebagai pengganti
the cultivation system (sistem pengolahan bahan). Dampak kebijakan politik
ekonomi itu menyebabkan banyak berdirinya perusahaan perkebunan. Salah satu
daerah yang berkembang sebagai akibat kebijakan itu ialah daerah Bondowoso dan
Jember. Kedua daerah ini terletak di bagian pedalaman yang cocok untuk
penanaman komoditi ekspor. Namun pada waktu itu permasalahan utama yang
dihadapi oleh perusahaan perkebunan ialah sulitnya mengangkut hasil perkebunan
ke luar negeri, karena kedua daerah tersebut jauh dari pelabuhan. Untuk
mengatasi masalah tersebut George Bernie, pemilik NV LMOD (Landbouw
Matscapay Out Djember) yakni salah seorang penguasa perkebunan terbesar di
daerah ini berinisiatif untuk membangun pelabuhan di Panarukan dan jalur kereta
api Jember-Bondowoso-Panarukan. Gagasan untuk membangun pelabuhan Panarukan
terealisasi pada tahun 1897 dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan
yang berjarak 98 km dibuka pada tanggal 1 Oktober 1987. Untuk itu Bernie
bekerjasama dengan Stoomvaart Matscapien Nederlandsch dengan
mendirikan Matscapay Panaroekan. Sejak berdirinya perusahaan pelabuhan
ini semua hasil perkebunan yang berasal dari Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan
Panarukan sendiri ditimbun di gudang-gudang di sekitar pelabuhan kemudian
diangkut dari pelabuhan Panarukan ke luar negeri terutama ke Bremen (Jerman)
dan Rooterdam (Belanda).
2.3 Perekonomian Indonesia-Belanda
1945-2000
Pada zaman
kemerdekaan Indonesia perekonomian masayaakat panarukan semakin menurun
disebabkan karena pelabuhan sudah tidak beroperasi ke internasional lagi dan
pengiriman barang-barang ke luar negeri sudah dinonaktifkan karena Adanya blokade ekonomi,
oleh Belanda (NICA). Blokade laut ini
dimulai pada bulan November 1945 ini, menutup pintu keluar-masuk perdagangan
RI. Adapun alasan pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah
-
Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan
peralatan militer ke Indonesia;
-
Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan
milik Belanda dan milik asing lainnya;
-
Melindungi bangsa Indonesia dari
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang bukan Indonesia.
Akibat dari
blokade ini barang-barang dagangan yang melalui pelabuhan tidak dapat diekspor,
sehingga banyak barang-barang ekspor yang dibumihanguskan. Selain itu Indonesia
menjadi kekurangan barang-barang impor yang sangat dibutuhkan.barang-barang
yang akan dikirim keluar negeri kosong dan barang yang masuk sangat
berkurang, sehingga pendapatan masyarakat panarukan di sekitar semakin tidak
sebanding dengan pengeluarannya. Penghasilan masyarakat yang hanya bergantung
kepada ongkar muat barang yang akan diankut ke kapal-kapal besar
2.4 Perekonomian dari tahun
2000-2013
Pada
zaman yang semakin maju ekonomi di pelabuhan panarukan semakin mundur
dikarenakan masalah yang terjadi diantaranya :
1. Bencana
alam
Menurunnya perekonomian
di pelabuhan panarukan karena terjadi pendangkalan yang disebabkan oleh banjir dari sungai sampeyan
dan sungai bandengan pada tahun 2002 sehingga pelabuhan panarukan tidak bisa
lagi dimasuki oleh kapal besar,2008 terjadi banjir rob kedua kalinya hingga
pesisir pantai panarukan semakin mendangkal dan pada era ini sudah dibangun
kembali dermaga yang panjang agar kapal besar dapat melabuhkan kembali di
pelabuhan panarukan dan ekonomi masyarakat semakin tinggi
2. Pemerintah-Masyarakat
Masyarakat yang kurang
perhatian terhadap pelabuhan panarukan menyebabkan pelabuhan tidak terawat dan
rusak. Dan pemerintah kabupaten Situbondo yang tidak memperhatikan pelabuhan
mengakibatkan pelabuhan ini hanya dipergunakan untuk angkutan kapal kecil yang
mengangkut barang seperti kayu,garam,kapas dan masyarkat daerah skitar yang
akan menyebrang ke pulau-pulau terdekat sehingga
masyarakat di pelabuhan panarukan tidak mempunyai pekerjaan tetap dan beralih
ke pekerjaan sebagai kuli bangunan dan lain-lain sehingga pengeluaran dan
pemasukan tidak seimbang ladi di pelabuhan.
Lampiran 1
· Observasi terhada masyarkat di
sekitar pelabuhan panarukan
+
Bagaiman perekonomian masayarakat di
sekitar pelabuhan panarukan pada jaman Belanda?
+
Bagaiman perekonomian masayarakat di
sekitar pelabuhan panarukan pada jaman Indonesia-Belanda 1945-2000?
+
Bagaiman perekonomian masayarakat di
sekitar pelabuhan panarukan pada tahun 2000 sampai sekarang?
- Bapak
Ansori (penjaga Marcosoar di pelabuhan panarukan)
- Bapak
Ahmadi (Nelayan di pelabuahan)
- Bapak
Mat (pengangkut barang/kuli)
o
Perekonomian masayarkat pada jaman
Belanda lebih makmur karena pada jaman itu pelabuhan menjadi pelabuhan
internasional karena banyak kapal-kapal besar yang melabuh untuk mengantar
barang ke negara Belanda dan sekitarnya barang ke pulau yang
o
Pada jaman kemerdekaan Indonesia
perekonomian masyarakat di pelabuhan panaruka menurun karena Belanda sudah
tidak lagi di Panarukan sehingga pelabuhan tidak lagi menjadi pelabuhan
Internasional melainkan Nasional yang hanya kapal-kapal kecil untuk mengangkat
barang ke pulau-pulau yang ada di Indonesia
o
Pada tahun 2000-2013 keadaan ekonominya
semakin merosot karena terjadi pendangkalan laut yang disebabkan oleh banjir
dari sungai sampeyan dan bandengan dan kurang perhatiannya masyarakat dan
pemerintah untuk mempertahankan pelabuhan kuno di panarukan
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Perhubungan dkk,. 2000. Perusahaan
Umum Pelabuhan III Cabang panarukan.
Situbondo: Dinas Perhubungan
Afriani
Fitri (2004). Sejarah Pelabuhan Panarukan. FKIP Universitas Abulyatama Aceh
Besar